|
Jul 18 2012, 06:25 PM
|
Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak gunung ijen, Jawa Timur, memiliki tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa timur. Kawah Ijen dilihat dari puncak gunung Ijen sangat mengagumkan. Suasananya menyenangkan untuk di rasakan baik pemandangan alamnya maupun suasana alam membuat para pencinta alam menjadi tertarik untuk menjelajahi gunung Ijen ini. Di samping sebagai tempat rekreasi yang terindah di kawasan Banyuwangi, kawasan gunung Ijen sering dijadikan anak-anak muda sebagai tempat berkemah yang cocok. Kawah Ijen merupakan danau yang besar berwarna hijau kebiruan dengan kabut dan asap belerang yang sangat memesona. Selain itu, udara dingin dengan suhu 10 derajat celcius, bahkan bisa mencapai suhu 2 derajat celcius, akan menambah sensasi yang dingin sekali bagi yang tidak terbiasa merasakan udara di kawah Ijen. Berbagai tanaman yang hanya ada di dataran tinggi juga dapat ditemukan, seperti Bunga Edelweis dan Cemara Gunung.
Untuk menuju Kawah Ijen, Anda harus menyusuri jalan setapak menyusuri tebing kaldera. Jangan lupa membawa penutup hidup karena kadang asap belerang tertiup angin melewati jalur tersebut. Anda juga dapat mengelilingi kaldera di kawasan ini yang memakan waktu mencapai 8 hingga 10 jam berjalan kaki
Untuk mencapai gunung Ijen dari Banyuwangi, bisa naik angkot trayek Banyuwangi - Licin - Jambu. Dari Jambu perjalanan dilanjutkan menuju Paltuding dengan ojek,landrover,truk penambang belerang atau menumpang mobil pengangkut sayur atau lebih extreme dgn jalan kaki 17KM. Pintu gerbang utama ke Cagar Alam Taman Wisata Kawah Ijen terletak di Paltuding, yang juga merupakan Pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam). Alternatif rute adalah Bondowoso - Wonosari - Tapen - Sempol - Paltuding. Fasilitas lain yang dapat dinikmati oleh pengunjung antara lain pondok wisata dan warung yang menjual keperluan pendakian untuk menyaksikan keindahan kawah Ijen.
Dari Paltuding berjalan kaki dengan jarak sekitar 3 km. Lintasan awal sejauh 1,5 km cukup berat karena menanjak. Sebagian besar jalur dengan kemiringan 25-35 derajad. Selain menanjak struktur tanahnya juga berpasir sehingga menambah semakin berat langkah kaki karena harus menahan berat badan agar tidak merosot ke belakang.
Setelah beritirahat di Pos Bunder (pos yang unik karena memiliki bentuk lingkaran) jalur selanjutnya relatif agak landai. Selain itu wisatawan/pendaki di suguhi pemandangan deretan pegunungan yang sangat indah. Untuk turun menuju ke kawah harus melintasi medan berbatu-batu sejauh 250 meter dengan kondisi yang terjal.
|
| S | M | T | W | T | F | S |
| | | | | |
1
|
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
|
16
|
17
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
|
23
|
24
|
25
|
26
|
27
|
28
|
29
|
|
30
| | | | | | |
0 guest(s)
0 member(s)
0 anonymous member(s)
Gunung Welirang (3.156 m)
Terletak dalam satu kawasan yang sama yaitu dalam satu rangkaian dengan gunung Anjasmoro dan gunung Ringgit, gunung Arjuno dan gunung Welirang dapat dicapai dalam penempuhan satu jalur pendakian.
Gunung Arjuna termasuk dalam tipe gunung api tua dan merupakan gunung yang tak aktif, sedangkan gunung Welirang tergolong dalam kategori aktif dengan masih adanya aktifitas berapi dengan adanya kawah belerang yang aktif mengeluarkan asap kental belerang. Meskipun masih dalam satu rangkaian yang sama namun gunung Arjuno dan gunung Welirang berbeda. Pada perjalanan pendakian di lembah dan lereng di sekitar gunung Arjuna, terdapat puluhan peninggalan purbakala yang berserakan dan tak terbengkalai, sebagian besar masih tertutup semak belukar dan tanah keras. Dalam pendakian belakangan ini sungguh disayangkan, banyak peninggalan benda purbakala yang bernilai sejarah tinggi, raib tak tentu rimbanya. Di gunung Arjuna juga banyak bermunculan kisah-kisah mistis selama pendakian, yang tentunya menambah rasa keingin tahuan kita akan gung Arjuna dan misterinya.
Sedangkan gunung Welirang menyajikan pemandangan yang tiada duanya disepanjang perjalanan pendakian. Kekayaan akan batu kuning belerang menarik untuk kita lihat secara langsung proses pengambilan hingga pengolahannya.
Pendakian gunung Arjuna dan Welirang dapat ditempuh melalui 3 jalur, yaitu melalui jalur timur lewat Lawang - Malang, dari arah barat lewat Selecta - Batu dan arah utara Tretes melewati gunung Welirang. Berdasarkan pengalamanku saat mendaki kedua gunung ini akan lebih mudah sekaligus mengesankan jika kita melalui arah utara yaitu Tretes melewati gunung Welirang, turun dan melanjutkan ke gunung Arjuna dan turun melalui jalur timur lewat Lawang - Malang ditempuh dalam 2 hari, 3 malam.
Tretes - Welirang
Dari Surabaya kita naik bus jurusan Malang atau sebaliknya, turun di Pandaan dan dilanjutkan dengan mobil angkutan menuju ke Tretes. Tretes (860 mDPL/ meter dibawah permukaan laut) merupakan hutan wisata dan banyak terdapat tempat peristirahatan dan hiburan. Di Tretes juga sering dikunjungi artis ibukota yang menghabiskan waktu untuk beristirahat
Di sini juga terdapat dua air terjun yang indah, yaitu air terjun Elang dan Kakek Bodo. Air terjun yang terakhir ini terkenal akan keindahannya sekaligus misterius. Di tempat ini ada tempat perkemahan bagi yang ingin menghabiskan waktu/ berkegiatan di alam. Konon menurut cerita warga sekitar, di sekitar air tejun Kakek Bodo sering dijumpai wujud kakek-kakek bersorban yang muncul dan menghilang dalam sekejap mata (dan saya pun sempat penampakan secara sekilas hiiiee..). Dan di sana sering terjadi kasus kesurupan. (lagi-lagi saya mendapati kesurupan beberapa orang mahasiswa dari kegiatan ekstra kampus yang kesurupan dan meraung-raung secara masal. Hieee..)
Pendakian kita mulai dengan jalur jalan setapak yang melingkar menuju gunung Welirang, deretan pepohonan yang lebat dan tinggi dikelilingi kabut dingin khas udara tipis pegunungan mulai kita rasakan di awal perjalanan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam kita akan menjumpai sungai kecil yang bening di pertengahan perjalanan antara Tretes dan pondok Welirang. Setelah berjalan melewati hamparan hutan pinus dan ladang alam bunga Edelweis, sekitar 5,5 jam (tergantung kecepatan individu pendaki dan kondisi alam) ke arah barat daya menuju pondok peristirahatan Welirang.
Dalam perjalanan kita akan melewati hutan tropis Lali Jiwo yang sering diceritakan dari mulut ke mulut akan keangkerannya, namun selama kita tetap berdoa dan yakin fokus pada perjalanan maka tidak terjadi apapun, malah kita akan disuguhkan pemandangan hutan lebat dengan pohon menjulang ke langit yang penuh dengan warna-warni bunga dan tumbuhan yang ditimpali dengan suara kicauan burung dan hewan lainnya. Setelah sampai di pondok peristirahatan, kita lebih baik beristirahat sembari mengisi perut yang telah kosong. Kita bisa mengambil air di sungai yang luar biasa bening dan segar, memasak atau bahkan mandi keramas (). Di tempat inilah kita bisa bertegur sapa dengan banyak paca penambang batu belerang. Berbagi pengetahuan, bekal atau bisa sekedar berfoto merupakan hal yang menyenangkan sembari melepas lelah. Disini pula ktta dapat membeli (sangat murah Rp. 2.000!) untuk serangkai bunga Edelweis yang cantik dan telah dibalut sedemikian rupa dengan belerang dari para penambang batu belerang. Lumayan untuk oleh-oleh berupa bunga bunga abadi buat sang pacar yang sedang menunggu di rumah. (romantis hehe)
Dari tempat inilah kira-kira 1 jam perjalanan, kita akan jumpai dua jalur bercabang, jalur ke kiri menuju arah gunung Arjuno, dan jalur lurus langsung menuju puncak gunung Welirang. Dari pondok sampai puncak Welirang kita akan melewati hutan cemara yang lebat dan membutuhkan waktu +4 jam sampai ke puncak Welirang. Disinilah terdapat cerita menarik ketika pengalaman pertama saya mendaki gunung Welirang dan gunung Arjuna. Tepat jam 2 siang, saya dan teman, kami berdua memutuskan untuk mendaki duluan menuju puncak Welirang meninggalkan 6 orang teman lainnya yang memutuskan untuk beristirahat di pos peristirahatan. Keinginan mengabadikan sunset di gunung Welirang mendorong saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Dengan hanya berbekal kamera dan botol minuman yang tergantung di pinggang saya putuskan berangkat bersama salah seorang teman. Tak ada halangan dalam perjalanan menuju puncak Welirang hingga kesadaran saya akan sosok teman yang sudah tak kelihatan (akibat perbedaan tingkat fisik dan ketertarikan mengabadikan momen indah) membuat kami terpisah. Segera saya lanjutkan langkah mendaki dengan cepat untuk mengejar teman. Sesampainya di puncak Welirang, jam menunjukkan pukul setengah empat sore, segera saya manfaatkan dengan mengabadikan sunset gunung Welirang yang teramat indah intuk dilewatkan. Hingga di suatu saat saya ingat akan keterpisahan kami, sembari mencari teman, saya manfaatkan dengan menyalurkan hobi fotografi. Dari puncak Welirang, yang ditandai dengan batu besar, kita bisa menyaksikan panorama pemandangan indah wisata Selekta, Tretes dan kaki-kaki langit di Selat Madura. Di bawah puncak gunung tampak 2 kawah berwarna kekuningan yang diselimuti asap pekat belerang. Kawah Jero tampak lebih besar dan dalam, yang ditambang secara tradisional oleh warga penambang belerang dan Kawah Plupuh tampak berdampingan indah menghantarkan gambaran alam berbalut awan. Batas awan dan bumi seakan menjadi pudar hingga kita seakan bisa merasakan sapuan embun awan yang membasuh wajah, menyejukkan sukma
Tak terasa gelap mulai menyusuri kabut gunung Welirang. Tanpa sadar jam menunjukkan pukul 5 sore lebih. Ketakutan mulai menyergap bathin dan pikiran saya dimana senter dan peralatan survival berada di tangan teman yang terpisah. Sedetik kemudian tanpa pikir panjang saya putuskan menuruni lereng Welirang secepat mungkin sebelum gelapnya malam menyelimuti area gunung. Namun mentari yang telah beranjak dari peraduannya lebih cepat, segera saya putuskan untuk berlari secepat mungkin. Suara teriakan monyet dan penunggu hutan sepanjang perjalanan seakan menjadi penyemangat. Terjatuh dan kembali segera bangkit dan terus berlari, hingga tanpa terasa pos peristirahatan tampak di depan mata. Disambut dengan tatapan heran teman-teman memandangi saya yang terengah-engah dan bermandikan keringat. Teman saya yang tadi terpisah ternyata sudah tiba duluan menjelang gelap. Barulah saat itu saya merasakan kesakitan dan pegal di seluruh sendi tubuh, namun saya tetap bersyukur dapat kembali dengan keadaan sehat dan bersyukur telah mendapatkan foto-foto sunset di gunung Welirang.
|